Tanpa Bantuan Pemerintah, Warga Sembakung Inisiatif Buka Jalan 11,5 Kilometer, Samsun: Kami Butuh Akses

nara
- Rabu, 29 Juli 2026
BUKA JALAN - Msyarakat perbatasan RI-Malaysia di Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Nunukan, Kaltara berpose bersama bersiap membuka jalan secara swadaya sepanjang 11.514 kilometer.
BUKA JALAN - Msyarakat perbatasan RI-Malaysia di Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Nunukan, Kaltara berpose bersama bersiap membuka jalan secara swadaya sepanjang 11.514 kilometer.
Bagikan:

NARASIDIKSI.COM, NUNUKAN – Kurangnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan akses jalan di wilayah perbatasan disikapi masyarakat perbatasan RI-Malaysia di Kecamatan Sembakung, Nunukan, Kaltara dengan membuka jalan secara swadaya sepanjang 11.514 kilometer, dengan lebar 20 meter.

Pembangunan jalan ini dilakukan masyarakat Desa Atap tanpa sedikitpun bantuan dari pemerintah.

Adapun titik pembukaan jalan, dikerjakan oleh masyarakat dari Gunung Sengkepian Desa Atap, Kecamatan Sembakung, Nunukan menuju perbatasan Kabupaten Tanah Tidung (KTT).

Ketua Tim Swadaya Percepatan Pembangunan Desa Atap, Samsun S Abjiah mengungkapkan, pembangunan jalan yang dilakukan masyarakat ini merupakan inisiatif masyarakat Desa Atap dalam menyikapi sulitnya akses jalan menuju wilayah perbatasan.

“Masyarakat mulai pembangunan jalan sejak 31 Mei 2026, tanpa anggaran pemerintah. Seluruh pekerjaan dilakukan secara swadaya masyarakat,” tuturnya.

“Pembangunan jalan ini merupakan kelanjutan dari rencana pembangunan koridor Sembakung–Tidung Pale sepanjang sekitar 19,5 kilometer, dan sudah masuk dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kaltara,” lanjutnya.

Pembangunan jalan ini, disampaikan Samsun, sudah dilakukan sejak tahun 2018 silam.

Hanya saja dalam proses pembangunan yang terkendala, membuat masyarakat berinisiatif melanjutkannya sendiri di tahun 2026 ini.

“Kalau jalan ini nanti berfungsi secara optimal, maka waktu tempuh masyarakat dari Sembakung ke Tanjung Selor diperkirakan dapat dipangkas kurang lebih 4 sampai 5 jam. Coba kita bandingkan rute yang selama ini digunakan, masyarakat bisa menempuh kurang lebih 9-10 jam perjalanan,” ungkapnya.

Terlebih, dibeberkan Samsun, bila nantinya akses jalan ini berfungsi, maka akan berdampak sangat besar terhadap bidang pertanian.

Pasalnya, bila jarak tempuh lebih singkat, dan akses jalan terbuka membuat distribusi hasil pertanian akan semakin lancar.

“Harapan kami, akses menuju wilayah perbatasan semakin terbuka dan aktivitas masyarakat menjadi lebih mudah. Dampaknya akan sangat besar bagi mobilitas masyarakat maupun distribusi hasil pertanian,” jelasnya.

Harapannya, dengan dilakukan pembukaan jalan secara swadaya ini menggugah pemerintah untuk ikut andil dalam pembangunan jalan di wilayah perbatasan.

(*)