MENGGANDENG mesra istri tercinta masuk kedalam Kantor Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Malinau, Kristian Muned mantan Kepala BPPD Malinau menghadiri undangan para pegawai BPPD Malinau, yang menggelar acara perpisahan, dengan tajuk Selamat Purna Tugas Bapak Ir Kristian Muned MT Kepala BPPD Malinau 11 Juli 2022 – 1 Januari 2026.
Oleh : Redaksi NarasiDIksi.com
TERIMAKASIH Atas Pengabdian, Dedikasi Dan Kebersamaan Selama Ini, Semoga Setelah Purna Tugas Selalu Diberikan Kesehatan, Kebahagiaan Bersama Keluarga. Berikut sepanduk penyambutan Kristian Muned tertempel di Ruang Serba Guna BPPD Malinau, pada Kamis (15/1/2025), pukul 10.00 WITA.
Tampak puluhan pegawai dari lintas instansi hadir di acara perpisahan tersebut. Wajar, karena pria yang akrab dipanggil Muned ini telah melanglang buana di beberapa posisi strategis di daeah bernama lain Bumi Intimung ini.
Pria yang kini menginjak usia 60 tahun ini pernah menjabat sebagai Korlap pada Kanwil Pekerjaan Umum (PU) Tarakan, sampai menjabat sebagai Kepala Dinas PU Malinau. Dan, selama kurang lebih 20 tahun berkecimpung di instansi ini. Hal tersebut tentu saja sejalan dengan title yang diembannya sebagai insinyur, dan bergelar magister teknik.

Setalah di PU, Muned dipercaya sebagai Asisten II Setkab Malinau. Setelah didapuk sebagai pembantu Sekretaris Daerah selama beberapa tahun, Muned dimutasi, dengan jabatan Kepala Dinas Pertanian. Kemudian, terakhir Muned menjabat sebagai Kepala BPPD, dan pensiun sebagai pemimpin di instansi pengurus daerah perbatasan Indonesia itu.
Sekretaris BPPD Malinau, Aghustinus mengungkapkan, sosok Muned merupakan sosok pimpinan yang memiliki tipe mengejar progres seluruh perintah yang ia berikan kepada staf-nya.
Selain itu, Agusthinus juga membeberkan, Muned juga menjadi sosok inovatif, pemersatu dan mengutamakan kebersamaan dalam setiap kegiatan di BPPD.
“Dan sosok pemimpin seperti itu yang kita perlukan. Di bawah kepemimpinan beliau, kebersamaan antar pegawai di BPPD ini terjalin dengan baik. Beliau memperjuangkan renovasi kantor dengan sangat baik. Sehingga, bisa kita liat kantor kami saat ini sangat nyaman,” ujarnya.
“Di sini sudah ada dapur, ada ruang serba guna, ya saya mersakan ada perbaikan signifikan pada kantor ini. Kita biasa masak sama-sama, dan makan bersama di kantor. Pokoknya nuansa kekeluarganannya sangat terasa,” jelasnya.
“Tinggal dibangun home stay aja lagi di sini pak. Bisa sudah kita istirahat tidur, pas jam istirahat,” celetuk salah satu pegawai BPPD di selah-selah obrolan awak media ini dengan Aghustinus.
Muned dalam sambutannya berpesan, ASN harus loyal dengan pimpinannya. Pasalnya, sudah menjadi tugas ASN untuk loyal pada pimpinan di mana ASN tersebut bertugas.
“Itu adalah pesan saya yang paling utama. Dalam konteks kerja, ASN wajib loyal dengan pimpinan. Suka tidak suka, mau tidak mau, ASN memang sudah seharusnya loyal dengan pimpinan,” tegasnya.
Selama 29 tahun 10 bulan menjadi ASN, Muned menuturkan, loyalitas ASN kepada pimpinan merupakan kekuatan tersendiri dalam tubuh pegawai negara ini. Sehingga, Muned kembali menegaskan kekuatan tersebut harus menjadi kebanggaan bagi ASN itu sendiri.
“Perlu juga saya sampaikan, pensiun merupakan kebanggan bagi seorang ASN. Sebab, tidak semua ASN itu bisa pensiun. Ada tiga hal yang bisa menghalangi ASN pensiun. Pertama, ASN itu mengidap penyakit tetap yang menghalangi ASN tersebut bertugas. Kedua, ASN tersebut mangkat. Ketiga, ASN tersebut tersangkut masalah hukum,” pungkasnya.
Di luar daripada itu, Muned juga menyampaikan kebanggaannya masuk sebagai gelombang pertama ASN yang mengabdi saat Malinau dimekarkan menjadi kabupaten baru, pada tahun 1999 silam.

“Saya juga ingin menyampaikan kebanggaan saya sebagai ASN, yang masuk digelombang pertama pemekaran Malinau. Mungkin sebagaian orang banyak menyebut pembangunan di Malinau ini sebagai hal yang biasa-biasa saja. Tapi bagi saya, pembangunan di Malinau sangat luar biasa,” tuturnya.
Ia juga sangat merasakan bagaimana susah dan sedihnya saat awal-awal mengabdi sebagai pegawai di daerah pemekaran. Muned sedikit mengingat, awal-awal dulu saat dirinya dan rekan-rekannya masih harus ngekos dan sangat sulit mencari warung untuk makan.
“Sekarang sudah sangat banyak warung di Mainau. Kalau dulu susahnya cari warung. Mobil milik pemerintah pun cuman ada satu. Belum lagi kalau berbicara kita dulu ke daerah pedalaman dan perbatasan. Ya pokoknya dulu serba terbatas, dan sangat sulit,” kenangnya.
“Tapi sekarang semua sudah mudah. Semoga perkembangan pembangunan di Malinau semakin maju lagi ke depan. Meskipun saya sudah pensiun, namun saya tetap akan mengawal pembangunan dari luar pemerintahan,” tutupnya.
(*)
Penulis : Redaksi NarasiDIksi.com





