NARASIDIKSI.COM, NUNUKAN – Perbatasan merupakan beranda, serambi, kaki lima, wajah negeri, halaman rumah, harga diri, citra diri, potret negeri, identitas negeri, dan kebanggaan bangsa.
Demikian dituliskan Tokoh Masyarakat Krayan, Nunukan yang juga mantan Wakil Gubernur Kaltara, Yansen TP di laman media sosial miliknya.
“Mungkin kita tidak lagi bicara tentang semuanya itu. Sebuah Pertanyaan yang layak untuk kita ajukan. Benarkah kita sungguh-sungguh membangun bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai ini, sebagaimana hakikat dari tujuan pembangunan nasional yang kita cita-cita dan dambakan?” tanyanya.
Pertanyaan tersebut terlontar sekaligus sebagai keprihatinan Yansen TP, pasca terjadinya lagi kecelakaan di daerah perbatasan Indonesia di wilayah Kaltara, yakni kecelakaan pesawat kargo pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kecamatan Krayan Timur, Nunukan, Kaltara
Mantan Bupati Malinau dua periode ini juga menyebutkan, wilayah perbatasan RI-Malaysia yang berada di Nunukan, Malinau merupakan salah satu wilayah yang memiliki hutan perawan yang begitu luas.
“Tidak pelak lagi, hati ini perih sekali, ketika setiap kali terjadi musibah pesawat jatuh, perahu karam di giram-giram (jeram), mobil terbalik di jurang-jurang pegunungan, terperosok di kubangan, di lumpur-2 jalan,” tuturnya.
“Kembali menjadi pertanyaan saya, kenapa nagara ini? Di mana pemerintah ini? Di mana para pemimpin yang berkoar-koar ingin membangun, ingin mengatasi masalah daerah, manusianya, masyarakat perbatasan?” tanyanya lagi.

Mengenang 15 Tahun lalu, Yansen TP mengungkapkan, saat Menteri berkunjung ke Perbatasan Krayan, disambut dengan Upacara di Desa Long Bawan.
Diungkap lagi olehnya, berdiri megah Bendera Merah Puti di atas tiang bambu setinggi 20 meter, dengan 12 meter lebar Bendera Merah Putih.
“Saya mewakili masyarakat perbatasan saat itu mengatakan, bendera besar berkibar di tiang bambu itu maksudnya bukan untuk menyambut kedatangan Bapak Menteri. Dan juga, bendera itu bukan satu-satunya dan yang pertama dikibarkan di Perbatasan ini,” tandasnya.
Artinya, disampaikan Yansen TP, masyarakat perbatasan membela negara Indonesia dengan hati.
Sekalipun hanya sebuah kebanggaan, ditegaskan Yansen TP, masyarakat perbatasan mengibarkan Bedera Merah Putih sejak Indonesia merdeka.
“Tidak pernah kami berhenti, mereka tetap setia tak terukur melakukan itu, walaupun tantangan hidup mereka sangat berat, entah sampai kapan akan berakhir,” tegasnya.
Setelah mendapati kenyataan kembali terjadi kecelakaan tragis di Krayan, Yansen TP menyampaikan kesedihannya
“Tetapi apa yang kita saksikan dan rasakan hari ini, sebuah armada angkutan BBM untuk masyarakat Krayan Jatuh, menumpahkan darah seorang pilot, kemudian tubuhnya terbakar. Sedih dan perih hati ini membayangan suara hati sang pilot ketika peristiwa yang tentu tidak terduga ini,” pungkasnya.
Menurut Yansen TP, pilot yang tewas dalam kecelakaan tersebut merupakan seorang pejuang yang telah bertaruh nyawa menghidupkan masyarakat perbatasan.
“Sedih, jengkel, marah entah kepada siapa dan menyesal, serta malu bercampur aduk atas musibah yang bisa kita katakan tidak perlu terjadi ini,” tuturnya.
Seperti diwartakan sebelumnya, berdasarkan informasi terakhir yang diterima, pesawat yang diduga mengalami insiden merupakan jenis Air Tractor AT-802 dengan registrasi PK-PAA yang melayani penerbangan charter kargo pengangkut bahan bakar dalam rangka mendukung distribusi BBM Satu Harga ke wilayah perbatasan.
Penerbangan tersebut diawaki oleh satu orang pilot tanpa awak kabin maupun penumpang.
Pada pemantauan terakhir, pesawat dilaporkan telah menyelesaikan misi distribusi BBM ke Long Bawan dan sedang dalam perjalanan kembali menuju Bandara Juwata Tarakan.
(*)







