Festival Sumingkawot di Malinau Ditutup, Pemuda Dayak Tahol Serukan Persatuan dan Pelestarian Budaya

nara
- Minggu, 20 September 2026
Ketua Panitia Festival Budaya Sumingkawot, Melkias, S.Pd. (HO PANITIA PESTA BUDAYA SUMINGKAWOT)
Ketua Panitia Festival Budaya Sumingkawot, Melkias, S.Pd. (HO PANITIA PESTA BUDAYA SUMINGKAWOT)
Bagikan:

NARASIDIKSI.COM, MALINAU — Festival Budaya Sumingkawot resmi berakhir pada Sabtu, 19 September 2026, di Balai Adat Desa Salap, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau. Penutupan berlangsung meriah dengan agenda Final Sumingkawot, Fashion Show bernuansa budaya Dayak Tahol, serta penampilan artis-artis Tahol.

Namun, di balik kemeriahan penutupan tersebut, tersimpan pesan yang lebih besar, yakni semangat generasi muda Dayak Tahol untuk kembali mengenal, mempertahankan, dan menjaga warisan budaya leluhur.

Festival ini bermula dari sebuah gagasan untuk membuat dokumenter mengenai Sumingkawot.

Dalam prosesnya, gagasan tersebut berkembang menjadi sebuah kegiatan yang melibatkan masyarakat dan generasi muda melalui pertandingan Sumingkawot.

Dari sebuah ide sederhana untuk mendokumentasikan budaya, kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi momentum yang mampu mempertemukan dan menggerakkan pemuda Dayak Tahol.

Ketua Panitia Festival Budaya Sumingkawot, Melkias, S.Pd., menyampaikan bahwa kondisi tersebut harus menjadi momentum bagi seluruh pemuda Dayak Tahol untuk bersatu dalam menjaga budaya.

“Pemuda Dayak Tahol harus bersatu. Budaya kita adalah identitas dan warisan dari leluhur yang harus kita pertahankan. Jangan sampai budaya hanya menjadi cerita dari orang-orang tua kita. Kita yang muda harus mengambil bagian untuk menjaga dan meneruskannya,” ujar Melkias.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Wiliam Gerson, S.IP., M.H., yang dinilai telah memulai langkah penting dalam mengangkat kembali Sumingkawot.

Menurut Melkias, keberanian untuk memulai kegiatan tersebut telah memberikan dampak positif dan membangkitkan semangat generasi muda Dayak Tahol.

“Kami sangat mengapresiasi Saudara Wiliam Gerson yang telah memulai kegiatan ini. Dari satu gagasan, akhirnya bisa menggerakkan banyak pemuda. Semangat pemuda Dayak Tahol seperti terbakar kembali untuk menjaga budaya kita,” katanya.

Melkias menilai, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan generasi muda.

Menurutnya, budaya tidak cukup hanya disimpan dalam dokumentasi, tetapi harus dihidupkan, dimainkan, dipelajari, dan diwariskan.

Karena itu, ia berharap semangat yang muncul melalui Festival Budaya Sumingkawot tidak berhenti setelah acara berakhir.

“Jangan sampai semangat ini hanya muncul ketika ada festival. Mari kita jadikan ini sebagai awal. Pemuda Dayak Tahol harus terus bersatu, saling mendukung, dan bersama-sama menjaga apa yang telah diwariskan oleh leluhur,” tegasnya.

Sementara itu, Wiliam Gerson, S.IP., M.H., selaku penggagas kegiatan, sebelumnya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memang berawal dari rencana pembuatan dokumenter mengenai Sumingkawot.

Dalam perkembangannya, Sumingkawot tidak hanya menjadi objek dokumentasi, tetapi kemudian hadir sebagai sebuah pertandingan yang melibatkan masyarakat dan generasi muda.

Momentum pertandingan tersebut bahkan direncanakan menjadi salah satu bagian penting dalam dokumenter Sumingkawot, karena memperlihatkan secara langsung bagaimana tradisi tersebut kembali dimainkan, dan diperkenalkan kepada generasi sekarang.

Festival juga menjadi ruang untuk memperkenalkan budaya Dayak Tahol melalui berbagai kegiatan, termasuk Fashion Show bernuansa budaya, seni, musik, serta penampilan para seniman dan artis Tahol.

Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi agenda yang berkelanjutan dan berkembang menjadi festival budaya tahunan.

Tidak hanya sebagai hiburan, tetapi sebagai ruang edukasi, regenerasi, dan transfer pengetahuan budaya dari para tetua kepada generasi muda.

Bagi masyarakat Dayak Tahol, Sumingkawot bukan sekadar sebuah permainan atau perlombaan.

Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, keberanian, keterampilan, dan bagian dari identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Karena itu, berakhirnya Festival Budaya Sumingkawot 2026 bukan berarti berakhir pula gerakan pelestarian budaya.

Justru dari sinilah diharapkan lahir gerakan baru dari generasi muda Dayak Tahol, untuk terus menjaga warisan leluhur.

Karena budaya tidak akan bertahan hanya karena pernah diwariskan.

Budaya akan tetap hidup ketika ada generasi yang mau mengenal, mencintai, menjalankan, dan mewariskannya kembali.

(*)