NARASIDIKSI.COM. MALINAU — Festival Budaya Sumingkawot 2026 resmi berakhir, pada Sabtu (19/9/2026), di Balai Adat Desa Salap, Kecamatan Malinau Utara, Kabupaten Malinau, tidak sekadar menjadi ajang perlombaan permainan tradisional.
Lebih dari itu, festival ini menjadi momentum yang mempertemukan kembali generasi muda Dayak Tahol melalui budaya dan membangkitkan semangat untuk menjaga warisan leluhur.
Kegiatan tersebut berawal dari sebuah gagasan Wiliam Gerson, S.IP., M.H., yang semula ingin mendokumentasikan Sumingkawot melalui sebuah film dokumenter.
Namun, dalam prosesnya, gagasan tersebut berkembang menjadi sebuah festival budaya yang melibatkan pemuda, para tetua adat, lembaga adat, pemerintah desa, serta masyarakat Dayak Tahol.
Dari sebuah gagasan sederhana untuk mendokumentasikan tradisi, lahirlah sebuah ruang yang mempertemukan generasi muda Dayak Tahol dari berbagai wilayah.
Budaya menjadi titik temunya.
Wiliam mengatakan, sejak awal dirinya tidak membayangkan bahwa gagasan tersebut akan berkembang menjadi sebuah kegiatan yang mendapat dukungan luas.
Baginya, langkah pertama yang dilakukan hanyalah membuka ruang agar Sumingkawot kembali dikenal dan dimainkan oleh generasi muda.
“Awalnya saya hanya ingin membuat dokumenter tentang Sumingkawot. Tetapi dalam perjalanan, kami berpikir bahwa budaya ini tidak cukup hanya direkam. Harus dimainkan, diperkenalkan, dan diwariskan. Dari situlah kemudian lahir gagasan untuk membuat kegiatan ini,” ujar Wiliam.
Ia menegaskan bahwa Festival Sumingkawot bukanlah kegiatan milik dirinya secara pribadi.
Menurutnya, setelah gagasan tersebut dimulai, banyak pihak kemudian ikut bergerak dan memberikan dukungan.
“Saya hanya memulai sebuah gagasan. Setelah itu pemuda bergerak, para tetua memberikan dukungan, lembaga adat memberikan ruang, pemerintah desa membantu, dan masyarakat ikut terlibat. Karena itu, festival ini bukan milik saya, tetapi milik kita bersama,” katanya.
Budaya Menjadi Ruang Persatuan
Bagi Wiliam, hal yang paling penting dari Festival Sumingkawot bukan hanya terlaksananya pertandingan, tetapi munculnya kembali semangat pemuda Dayak Tahol untuk berkumpul dan berbicara tentang budaya mereka.
Menurutnya, generasi muda memiliki latar belakang, aktivitas, dan wilayah yang berbeda.
Namun, budaya dapat menjadi ruang bersama yang mempertemukan mereka dalam satu identitas.
“Saya ingin budaya menjadi alasan kita untuk berkumpul. Bukan karena kita sama-sama berada di satu tempat, tetapi karena kita memiliki akar budaya yang sama. Kalau Sumingkawot bisa menjadi jembatan untuk menyatukan pemuda Dayak Tahol, menurut saya itu adalah sesuatu yang sangat berarti,” ungkapnya.
Semangat tersebut mendapat apresiasi dari berbagai tokoh adat Dayak Tahol.
Justinus, S.Sos., M.AP., Ketua Lembaga Adat Dayak Tahol Kabupaten Nunukan sekaligus Camat Lumbis Hulu Kabupaten Nunukan, memberikan apresiasi terhadap inisiatif Wiliam Gerson dalam menggerakkan generasi muda melalui kegiatan budaya.
Menurut Justinus, inisiatif tersebut telah menjadi pemantik yang membuat semangat pemuda Dayak Tahol kembali tumbuh dan membara untuk menjaga budaya yang diwariskan para leluhur.
Apresiasi juga disampaikan Jhonaedy, S.H., Ketua Persekutuan Dayak Tahol Indonesia (PDTI).
Ia memberikan penghargaan kepada Wiliam Gerson, dan para pemuda Dayak Tahol yang berani mengambil langkah terobosan untuk menjaga dan memperkenalkan kembali budaya Dayak Tahol melalui Festival Sumingkawot.
Bagi Wiliam, dukungan dan apresiasi tersebut merupakan bentuk kepercayaan terhadap generasi muda.
“Kalau ada apresiasi yang diberikan kepada saya, saya menganggap itu sebagai apresiasi kepada semua pemuda yang sudah berani bergerak. Saya mengambil langkah pertama, tetapi teman-teman pemuda yang kemudian membuat langkah ini menjadi lebih besar,” ujarnya.
Mendapat Dukungan Lembaga Adat dan Para Tetua
Wiliam juga menyampaikan penghargaan kepada Lembaga Adat Dayak Tahol Nasional, Persekutuan Dayak Tahol Indonesia (PDTI), Lembaga Adat Dayak Tahol Kabupaten Malinau, Lembaga Adat Dayak Tahol Kabupaten Nunukan, para pengurus adat, serta para tetua Dayak Tahol.
Ia menilai dukungan para tetua dan lembaga adat merupakan bagian penting dalam proses pelestarian budaya, karena generasi muda membutuhkan pengetahuan dan pengalaman dari generasi sebelumnya.
“Kami sebagai generasi muda tidak mungkin berjalan sendiri. Apa yang kami lakukan hari ini sebenarnya adalah melanjutkan sesuatu yang sudah diwariskan oleh para leluhur melalui para tetua kita. Karena itu, dukungan mereka sangat berarti bagi kami,” kata Wiliam.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Kepala Desa Salap beserta seluruh masyarakat Desa Salap yang telah menjadi tuan rumah kegiatan.
Ucapan terima kasih turut disampaikan kepada Kepala Desa Putat, Seruyung, Batu Lidung, Libang, dan Pa’lemumut, atas dukungan yang diberikan dalam pelaksanaan kegiatan.
Apresiasi juga diberikan kepada seluruh orang tua, panitia, pemuda, masyarakat, dan seluruh pihak yang telah memberikan waktu, tenaga, pikiran, serta kontribusi selama proses persiapan hingga pelaksanaan festival.
Dari Dokumenter Menjadi Gerakan Budaya
Perjalanan Festival Sumingkawot memperlihatkan bagaimana sebuah gagasan dapat berkembang ketika mendapat dukungan dan dikerjakan secara bersama-sama.
Sumingkawot yang awalnya hendak diabadikan melalui dokumenter kemudian diwujudkan dalam bentuk pertandingan.
Dari pertandingan tersebut, kegiatan berkembang menjadi festival yang menghadirkan berbagai ekspresi budaya, termasuk Fashion Show bernuansa Dayak Tahol dan penampilan artis-artis Tahol.
Bagi Wiliam, perkembangan tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang besar bagi generasi muda untuk mengambil bagian dalam pelestarian budaya.
“Budaya kita sebenarnya memiliki banyak potensi. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai dan kemauan untuk bergerak bersama. Saya berharap setelah Sumingkawot, akan muncul lebih banyak kegiatan lain yang lahir dari pemuda dan untuk pemuda,” tuturnya.
Bukan Akhir, Tetapi Awal
Wiliam berharap Festival Budaya Sumingkawot dapat terus berkembang dan menjadi agenda tahunan.
Ia ingin kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga menjadi ruang edukasi, dokumentasi, regenerasi, dan transfer pengetahuan budaya dari para tetua kepada generasi muda.
Menurutnya, keberlanjutan budaya sangat bergantung pada kemauan generasi penerus untuk mengenal dan menjalankannya.
“Festival ini boleh selesai, tetapi semangatnya jangan selesai. Kalau hari ini kita sudah bisa berkumpul karena Sumingkawot, saya berharap ke depan kita bisa berkumpul lagi untuk budaya-budaya Dayak Tahol lainnya,” ujarnya.
Ia berharap momentum tersebut dapat menjadi awal dari gerakan budaya yang lebih luas.
Bukan gerakan yang lahir dari satu orang, melainkan gerakan yang tumbuh karena pemuda bersatu, para tetua mendukung, lembaga adat memberikan ruang, pemerintah desa membantu, dan masyarakat ikut mengambil bagian.
Pada akhirnya, Sumingkawot bukan hanya tentang sebuah permainan tradisional.
Sumingkawot telah menjadi titik temu.
Titik temu antara generasi muda dan para tetua. Titik temu antara berbagai wilayah. Dan yang paling penting, titik temu antara generasi sekarang dengan akar budaya leluhurnya.
“Saya tidak ingin kegiatan ini dikenang hanya karena siapa yang memulainya. Saya ingin kita semua mengingat bahwa pernah ada sebuah momentum ketika pemuda Dayak Tahol kembali berkumpul karena budaya. Kalau momentum itu bisa kita lanjutkan, itulah keberhasilan yang sesungguhnya,” tutup Wiliam.
(*)







